blog diaper murah

blog diaper murah
distributor gg
Showing posts with label nikah. Show all posts
Showing posts with label nikah. Show all posts

Monday, January 02, 2006

Ketika Cinta Telah Hadir

Ketika Cinta Telah Hadir
by KotaSantri.com , diedit kembali by asyf4h :
Ketika cinta telah hadir di dalam hati setiap manusia, bersyukurlah, bahwa itu adalah karunia terbesar yang diberikan Tuhan kepada hambaNya. Namun tetap yakinlah bahwa cinta hakiki hanyalah cinta kepada Sang penguasa jagad raya ini, yang telah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan, ada siang malam, ada hitam putih, ada laki perempuan, ada susah senang, dan masih banyak lagi, agar manusia mensyukuri nikmat yang telah diperolehnya.

Telah diketahui bersama bahwa pada umumnya ion positif pasti akan bertolakan jika bertemu dengan ion positif pula, tetapi bila dipertemukan dengan ion negative maka akan saling bertemu. Begitu pula manusia normal, rasa suka, senang dan cinta bisa terjadi terhadap lawan jenis. Perempuan pada umumnya pasti akan menyukai laki-laki, begitu juga sebaliknya. Semua itu adalah fitrah, atas kelebihan yang telah diberikan Sang Khalik kepada setiap makhluk ciptaanNya.

Manusia adalah makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna. Pada diri manusia terdapat dua jenis dorongan hidup yang senantiasa mendorong untuk melakukan kegiatan dan keinginan pemuasan pada dirinya.
Pertama ialah Keperluan Jasmani (hajatu al-'Udhawiyah) seperti makan, minum, membuang hajat, dan sebagainya. Keperluan ini menuntut pemenuhan dan pemuasan yang pasti dimana jika manusia tidak memenuhi keperluan ini, manusia akan mati.
Contohnya manusia akan mati akibat kebuluran, kehausan ataupun ketiadaan oksigen untuk pernafasan.
Kedua, adalah Naluri (gharizah) yang menuntut adanya pemenuhan dan pemuasan hajat. Jika pemenuhan ini tidak dipenuhi, manusia tidak akan mati tetapi sebaliknya manusia akan merasa gelisah hingga ia dapat memenuhi keperluan tadi.
Naluri manusia telah dikategorikan oleh Ulama Islam kepada 3 macam yaitu Naluri Menyembah/beragama (Gharizah al-Tadayyun), Naluri Seksual (Gharizah al-Nau') dan Naluri Bersaing (Gharizah al-Baqa'). Contohnya, manusia tidak akan mati jika tidak melakukan persetubuhan (bagi suami-isteri) tetapi hati dan perasaannya akan senantiasa tidak tenteram dan gelisah. Begitu juga dengan orang yang sedang jatuh cinta, sentiasa gelisah ingin selalu bersama kekasihnya karena ingin memenuhi pemuasan naluri seksualnya walaupun hanya dengan memandang wajah kekasihnya atau berbual bersama.
Ternyata sulit ya mengendalikan naluri itu, apalagi di zaman sekarang batas-batas ruang dan waktu hampir tidak kentara lagi. Yang jauh bisa menjadi dekat, yang sedih menjadi gembira, yang hilang pun bisa ditemukan kembali.

Balik lagi ke soal cinta Kalo dibilang sudah pernah merasakan cinta atau belum, setiap orang pasti pernah ya merasakan cinta, apalagi cinta kepada orang-orang yang sangat kita sayangi. Tetapi dahsyatnya, kekuatan cinta kadang membuat orang jadi mabuk (yang jelas bukan mabuk udara atau lautan). Cinta bisa datang dan pergi begitu saja, bisa dengan sebab-musabab atau tanpa sebab musabab sekalipun. Sungguh aneh cinta itu.

Jika ditanya, pernahkah saya merasakan cinta itu? Jujur saja jawabannya iya. Tapi ingat, tidak semua cinta harus diungkapkan dengan kata-kata. Ada seorang ustadz yang mengatakan, cinta yang murni diperlihatkan dalam perbuatan bukan kata-kata semata. Terkadang cinta harus berkorban, cinta pun tak selamanya harus saling memiliki. Cinta itu buta Kadang bisa membuat kita semakin cinta namun terkadang jika ia telah hilang akan membuat hati menjadi benci. Cinta bukan berarti rayuan, cinta bukan pula kata-kata romantis, tetapi cinta adalah anugrah, yang tak pernah mengenal bentuk dan raga, tak berwujud, tetapi bisa dirasakan.

Cintailah seseorang apa adanya, dan tidak melebihi cintamu pada ALLAH.
Mungkin seseorang yang kau cinta itu tidak bersamamu terus menerus, tapi ALLAH, dimanapun engkau berada, ALLAH bersamamu.
Percayakanlah orang - orang yang kau cintai bersama dalam penjagaan ALLAH.
Walau di mata jauh, di hati kita dekat. Dan Allah lah yang akan mengingatkan cinta cinta kita...
Luv U my husband.. coz ALLAH

Friday, September 23, 2005

Ngejomblo Itu Nikmat, Jenderal!!!



Sungguh indah menikmati masa pernikahan tanpa diawali dengan pacaran, karena pacaran bisa dilakukan setelah nikah dilangsungkan. Indah itulah rasanya. Semoga ALLAH menjaga nikmat ini semua.

Kenangan berjomblo seumur hidup dan berakhir saat seorang datang untuk menikahin adalah sesuatu yang indah. Jangan merasa jomblo sesuatu yang sangat menyedihkan, alhamdulillah selama jomblo masih banyak kebahagiaan lain yang saya peroleh. Terutama kebahagiaan bersama teman-teman seperjuanganku, at my beloved campus..

Terimakasih telah menjadi teman2ku dan membuat kejombloanku bukan suatu yang perlu disesali dan terima kasih untuk suamiku yang memilihku sebagai istri dengan proses yang baik.

Artikel ini ditulis kembali oleh mumtaza annisa dan akan saya tampilkan kembali untuk saudara2 saya disini :)

07 May 2005, 20:04:26

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh



Hehehe, judulnya provokatif ya?! Bukannya mo "melawan" Jomblo itu pedih cuma yah buat perenungan diri aja di usia 23 ini. Habisnya begitu banyak "kompor" di sekitar yang bikin panas dan seolah–olah nyuruh segera mencari–cari pasangan. Untung tuh kompor nggak pada meledak.

Banyak orang yang katanya menyesal setelah menikah. Iya nyesel, kenapa nggak dari dulu. Hehehe J. Meski begitu, jomblo bukan berarti penderitaan. Buktinya banyak yang bangga dan bahagia dengan ke-jomblo-annya. Muncullah istilah Jojoba (Jomblo–jomblo Bahagia), Ijo Lumut (Ikatan Jomblo Imut), Kejora (Kelompok Jomblo Ceria), dan Joker's (Jomblo Keren nan sukses). Yang nggak kalah keren ada istilah High Quality Jomblo.


Jomblo emang lagi naik daun (nggak tahu sebesar apa daunnya, sampe nggak jatoh). Sebagai seorang bolamania, Jomblo itu ibarat pemain yang bertipe oportunis, single fighter, tidak bergantung pada pemain lain, selalu punya kelebihan dalam melihat dan memanfaatkan sekecil apapun di pertahanan lawan untuk hasil terbaik. Kemandiriannya membuat si Jomblo selalu fokus pada tujuan permainan, dan tidak terpengaruh hal lain. Dia adalah motivator dan inspirator dari sebuah tim/komunitas. Bebas bergerak menjelajah lapangan tanpa terikat pada posisi. Mampu mengoptimalkan stamina, teknik, dan daya tahan dalam menghadapi permainan lawan. Memiliki visi permainan yang cerdas untuk mencapai kemenangan. Dia mampu melihat sanctuary yang tidak bisa dilihat oleh pemain lain. Dia dikenal dengan istilah FANTASISTA! (yang begini mungkin yang pantas disebut High Quality Jomblo).

Ngejomblo atau tidak sebetulnya sih buat Saya nggak begitu penting. Karena yang penting tuh bagaimana kita bersikap dan berbuat dengan status kita itu. Kalau kita menyikapinya dengan penuh rasa syukur, positif, kreatif, produktif dan aktif (termasuk aktif nyari… pasangan hehehe). Insya Allah kita akan bisa menikmatinya. Enjoy aja kalo kata iklan mah! Percaya deh dengan begitu jomblo jadi hal yang nggak menakutkan lagi buat kita. Kita kan bisa lebih melihat lebih jauh ke depan dan lebih banyak sisi–sisi positif Jomblo.


Kalau orang bijak bilang, lihat ke-Jomblo-an sebagai peluang, bukan sebagai hambatan (hehehe, emang bisnis?!). Buang keluh kesah, terima ia sebagai sebuah nikmat lalu bersyukurlah, dan jangan pernah berhenti berharap. Sampai nanti tiba di batas waktu. Karena bicara soal cinta itu biacara sebuah hal yang indah dan rumit serta kompleks. Cinta itu sebagian orang bilang berwajah ganda. Di satu sisi menyimpan kebahagiaan tapi di sisi lainnya menyembunyikan penderitaan. Madu dan racun bersatu padu dalam cinta.

Cinta memang bukan virus (hehe, pinjam judul bukunya Mbak Jazhiem). Tapi salah seorang sahabat terbaik saya bilang bahwa orang jatuh cinta itu ibarat bermain judi, gambling. Filosofis banget ya. Menurutnya, ketika kita mencintai seseorang kita siap untuk bertaruh seberapa besar yang kita berikan kepada orang yang kita cintai itu. Jika kita memberikan segalanya, maka kita pun harus siap untuk kehilangan segalanya jika ternyata kita gagal. Dan jika kita hanya berikan bagian demi bagian maka jika gagal kita tidak akan kehilangan segalanya. Dan itu adalah pengalaman hidupnya saat ia memutuskan untuk jatuh cinta, memberikan segalanya dan akhirnya gagal. Eh koq jadi jauh banget nyasarnya.

Balik lagi ke masalah per-jomblo-an. Jangan sampai status ke-jomblo-an kita bikin kita jadi jadi "mutung", apalagi ketika melihat adik–adik kelas atau adik tingkat dan sejenisnya yang usianya dibawah kita udah nggak jomblo lagi. Hingga ujung–ujungnya kita "banting harga", ngobral. Sampe ada istilah 3 siapa dalam mencari jodoh. Usia under 25, "Siapa elo?". Usia 25–30 tahun, "Siapa gue ya?". Hingga akhirnya, "Siapa aja deh!" ketika usia dah masuk kepala tiga.

Buanglah gelisah, hapuslah resah dan jangan gundah dengan ke-jomblo-an kita. Lihat ia sebagai bagian dari rencana Allah untuk hidup kita. Percaya deh kita bisa tetap happy menikmati hari–hari sepi sendiri. Kita percayakan bahwa jodoh memang ada di tangan Allah. Meski sebetulnya pepatah itu juga bermakna bahwa : walaupun kita sudah berusaha sangat keras sekali nguber, ngejar, sampai ngelamar tapi kalau bukan jodoh ya nggak akan jadi. Tapi sebaliknya, kalau kita nggak mau berusaha, nggak mau membuka diri, atau istilah sepakbolanya menunggu di daerah pertahanan, ya nggak bakal dapat juga. "Jodoh kita akan terus ada di tangan Allah" kalau kita nggak usaha. Khan nggak mungkin tahu–tahu ada seseorang yang sesuai kita inginkan datang dan mengatakan, "Nikah, yuk!".

Begitulah hidup, nggak semuanya bisa dijelaskan dengan logika. Otak kita memiliki batas kemampuan untuk mengungkap semua keajaiban alam semesta yang maha sempurna ini. Ada banyak hal dalam hidup ini yang hanya bisa kita terima tanpa reserve. Itu adalah rahasia Ilahi Yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Kalau suatu keadaan itu memang tidak dapat kita ubah, misalnya kasus Jomblo ini, ya kita terima saja. Itu berarti jalan terbaik menurutNYA buat kita meski menurut kita belum tentu. Tapi DIA Maha Mengetahui yang terbaik buat hambaNYA. Toh gerundelan, uring–uringan, marah–marah, bahkan pake acara ngambek segala nggak ada gunanya.


Mengalir sajalah, lakukan yang terbaik, semampu kita dengan seoptimal mungkin. Soal hasil akhir, itu kita serahkan pada Yang Maha Mengetahui. Yang penting kita udah do the best. Melawan "arus" cuma bikin capek sendiri dan menimbulkan "riak–riak" baru dalam hidup kita. Bukan berarti pasrah dan diam tapi seperti burung yang terbang mengikuti arah angin, tapi tetap mengepakkan sayapnya. Mengalirlah dengan aktif. Jangan buang–buang energi dengan hal yang merugikan diri dan orang lain apalagi masa depan kita. Just go with the flow!

Dunia jomblo nggak melulu kusam dan muram. Tergantung kita yang menjalaninya, mau kita beri "warna" apa. Dan semua itu berawal dari hati dan pikiran kita. Hati yang bersih penuh syukur dan pikiran cerdas yang jernih akan membuat kita produktif dalam "mewarnai" dunia jomblo kita. Coba kita salurkan ke hal-hal positif seperti produktif berwira usaha atau melakukan hal–hal lain yang bermanfaat bagi orang banyak. Mumpung masih lonely, kita masih punya konsentrasi yang banyak, waktu luang yang cukup dan sumber daya yang bisa kita optimalkan. Bukan berarti pas dah nggak jomblo nggak bisa produktif, tapi jelas kita akan membagi perhatian, tenaga dan waktu kita buat keluarga.

Nggak percaya?! Buktikan aja sendiri. Jomblo, berarti kita punya waktu untuk bisa lebih jauh mempersiapkan diri menghadapi kehidupan ke depan termasuk kehidupan berumah tangga. Karena menikah tuh nggak cuman sekadar memadu cinta, lho! Seribu hal baik menyenangkan maupun tidak, baik mudah maupun sulit menanti ketika kita memutuskan untuk menikah. Dan masa Jomblo bisa kita pergunakan untuk lebih mempersiapkan diri menghadapi pernikahan dan kehidupan rumah tangga. Mempersiapkan ilmu, mental, jasmani, rohani hingga ekonomi. Termasuk rencana dan planning serta anggaran kehidupan.

So, jangan kecil hati kalau memang mesti ngejomblo. Apalagi sampai patah arang, patah hati sampe pengen matahin leher segala. Jangan, bro! cupet alias kerdil itu namanya. Dunia jomblo pun tak kalah indahnya koq. Asal kita nggak melihat dan menyikapinya negatif. Karena jomblo nggak berarti sendiri, toh yang jomblo banyak jadi kita nggak sendirian khan? So, "ngejomblo? Siapa takut!!!" (Syaheed Agung)




wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Wednesday, September 21, 2005

Untuk saudaraku yang ingin / yang akan menikah

Hani (24 th) akhir-akhir ini sering resah sendiri, apa yang dilakukannya sering menjadi serba salah, bahkan untuk hal-hal yang rutin dikerjakannya pun tak luput dari kesalahan. Hani juga jadi lebih sensitif, ada hal kecil saja yang tak berkenan di hatinya sudah dapat membuat ia sedih dan menangis. Tentu saja keadaan ini tidak membuat ia merasa nyaman terhadap dirinya sendiri. Usut punya usut, ternyata Hani sebentar lagi akan menikah, tepatnya sepekan lagi.Hani akan memasuki dunia baru, ia akan mengarungi bahtera rumah tangga. Persiapan sudah dilakukan, tempat sudah di booking jauh-jauh hari, undangan telah disebar, segala sesuatu yang berkaitan dengan teknis pernikahan sudah disiapkan dengan matang. Pendeknya, segala sesuatunya sudah beres, sisanya tinggal persiapan diri yang bersangkutan saja untuk menghadapi pernikahannya.

Sebetulnya Hani merasa telah mempersiapkan dirinya menghadapi pernikahan ini, tapi tak urung ia masih juga khawatir, apakah ia siap berbagi hidup bersama orang yang baru dikenalnya?
Apakah ia sanggup menjalankan amanah sebagai seorang istri lalu menjadi seorang ibu?
Hani teringat bahwa suatu hari ia pernah membaca sebuah buku yang di dalamnya diceritakan kisah tentang seorang wanita yang bertanya kepada Rasulullah SAW :
"Ya Rasulullah SAW, aku adalah seorang gadis yang ingin menikah, maka beritahukanlah kepadaku, apakah hak-hak suami terhadap istrinya agar aku dapat melaksanakannya? InsyaAllah".Rasulullah SAW yang mulia menjawab :
"Diantara hak suami atas istrinya adalah : Jika saja kaki suamimu terluka kemudian luka itu bernanah dan mengeluarkan bau busuk, kemudian engkau membasuhnya dengan wajahmu, maka engkau belum dianggap memenuhi semua hak suamimu. Dan kalau saja Allah membolehkanku untuk memerintahkan manusia sujud kepada manusia lain, sungguh aku perintahkan para istri untuk sujud kepada suaminya".
Hani ingat, ketika itu ia sampai bergidik membacanya.Ia juga teringat akan pembahasan tentang istri sholihah dalam kajian yang sering diikutinya, sehingga membuatnya terus menerus berfikir, apakah ia mampu menjadi istri sholihah?
Hani memang punya tekad kuat untuk menjadi istri sholihat. Ia ingin pernikahannya menjadi ladang amal sholih baginya, dan untuk itu ia akan mengerahkan seluruh kemampuannya.Sebenarnya Hani tak perlu sampai khawatir begitu, sebab rasanya kita semua, baik yang belum menikah atau bahkan yang sudah menikah bertahun-tahun masih harus terus belajar dan berproses menjadi istri yang sholihah, dan proses itu tidak akan pernah berhenti selama kita masih menjadi seorang istri.
Memang sangat jauh lebih baik proses untuk menjadi istri yang sholeha dimulai jauh-jauh hari sebelum Allah SWT memberikan jodoh kepada kita.
Lalu ketika hari pernikahan sudah diambang pintu, apa yang seharusnya dilakukan...?

Pertama :
Lebih intensif mendekatkan diri kepada Allah SWT, dibandingkan waktu-waktu sebelumnya.
Menikah adalah keputusan penting dalam kehidupan manusia. Siapapun tentunya tidak ingin salah dalam mengambil keputusan, apalagi keputusan itu menyangkut hal penting dalam hidupnya yaitu: "Pernikahan" Nah detik-detik menjelang "hari H" itu intensiflah bermunajat kepada Allah SWT, memohon kepada-Nya agar keputusan yang telah kita ambil itu benar-benar mendapat taufiq (persetujuan) serta ridho-Nya dan pernikahan ini menjadi keputusan terbaik dalam hidup kita.
Juga memohon bimbingan kekuatan, kemudahan dalam menjalani hidup berumah tangga, sehingga menjadi rumah tangga yang sakinah,mawaddah wa rahmah hingga akhir zaman.

Kedua : Berusaha untuk ikhlas dan senantiasa menjaga keikhlasan dalam kondisi apapun.
Ikhlas dalam konteks akan membangun rumah tangga adalah berusaha ikhlas menerima calon pasangan kita apa adanya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Ingat, kita akan menikahi manusia, bukan malaikat. Betapapun tinggi tingkat ketaatan seseorang dalam beragama, bukan berarti dapat mengubahnya menjadi malaikat yang tak pernah berbuat salah. Siap menikah berarti siap untuk terus menjaga keikhlasan dalam menjalani semua kewajiban, konsekwensi, dinamika dan gelombang dalam berumah tangga.
Sehingga dalam menghadapi kondisi seberat apapun nantinya, sikap kita adalah melakukan perenungan kembali tentang niat awal kita menikah.
Apa sih niat saya menikahi dia?
Kenapa sih saya mau menikahi dia?
Dengan demikian kita senantiasa diingatkan bahwa ada yang harus selalu dijaga dalam pernikahan ini. Ia adalah keikhlasan itu sendiri. Dalam kerangka ini, insyaAllah pernikahan akan menjadi ibadah di sisi-Nya.

Ketiga : Menjaga kebersihan hati dan menghiasinya dengan adab-adab syar'i.
Ingat, sebelum prosesi aqad nikah dilangsungkan, status kita terhadap calon pasangan adalah non-mahram, yang berarti adab berinteraksi dengan calon pasangan adalah sebagai mana adab berinteraksi antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram.
Hal itu sangat penting disadari untuk menjaga kebersihan hati agar tidak tergoda untuk melakukan hal-hal yang dilarang oleh syar'i. Berkomunikasi dan berinteraksi tentu saja boleh, tidak mungkin orang yang akan menikah tidak berkomunikasi dan berinteraksi dengan calon pasangannya. Tapi berusahalah sedapat mungkin berkomunikasi dan berinteraksi sesuai dengan adab yang diperbolehkan syariat. Misalnya, musyawarah tentang persiapan menikah dilakukan di rumah, bersama oang tua kita, atau dapat dilakukan di rumah orang yang kita percaya, tentu saja dengan didampingi oleh tuan rumahnya. Hindari berkhalwat berdua dengan calon pasangan, ingat

"tidaklah seorang laki-laki dan perempuan berkhalwat melainkan ketiganya adalah syaitan". (Al-Hadits).

Hindari juga sms, telephon, email mesra dan lain-lain yang sejenis, yang kesemuanya dapat membuat hati kita menjadi kotor, berangan-angan dan jatuh dalam dosa. Jika kita menginginkan pernikahan yang akan kita jalani mendapatkan taufiq, inayah, berkah dan ridho Allah SWT, kita harus mengusahakan agar segala persiapan sedapat mungkin "bersih" sejal awal prosesnya.

Mudah-mudahan tiga hal ini dapat membantu kita lebih pandai menata dan menjaga hati, sehingga detik-detik menjelang pernikahan tidak perlu lagi menjadi detik-detik yang membuat resah dan gelisah, tetapi sebaliknya menjadi detik-detik yang penuh keindahan dan kemanisan munajat kepada Allah SWT, yang membuka dan menjadikan semua jalan menjadi mudah dan terang.
Amin.
Kemudian dapatlah setelah itu kita dengan keyakinan kepada Allah SWT, berkata kepada calon suami kita : "wahai calon suamiku, marilah kita naiki bahtera ini, mari kita kembangkan layarnya bersama-sama, kita hadapi gelombangnya tanpa rasa gentar.
Semoga Allah SWT bersama kita. (Kado untuk adik-adik yang akan menikah dan tentunya semua saudaraku) salam hangat..

[diambil dari sebuah milis]
little comment
Tentunya sangat susah memastikan hati apakah dia ("calon") adalah jodoh kita. Hanya ALLAH yang tahu. Kepastian, mintalah pada yang lebih PASTI dan mengetahui KEPASTIAN itu, ALLAH. Banyak pertanyaan yang datang pada ane, menanyakan bagaimana ane bisa yakin menikah dengan pria itu, yang alhamdulillah sekarang jadi suami saya, semua saya kembalikan ke sebuah niatan , menikah di jalan ALLAH dan karena ALLAH. Mengenai kesiapan, semua nya berproses, pasti berproses... Semoga kami juga bisa menjadikan rumah tangga kami , rumah tangga idaman. SAKINAH MAWADDAH WAROHMAH