blog diaper murah

blog diaper murah
distributor gg

Monday, October 17, 2005

Jika Harus MemilihTetap Bekerja atau Mengasuh Anak?

Minggu, 14 Januari 2001
http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=15993&kat_id=100&kat_id1=&kat_id2=

Jika Harus MemilihTetap Bekerja atau Mengasuh Anak?

Menjadi ibu dan istri yang baik boleh jadi merupakan cita-cita setiap wanita. Itu pula yang dicita-cita Retno tatkala mengikatkan janji sehidup mati di hadapan penghulu, setahun lalu. Kini, ketika anak pertamanya lahir, cita-citanya makin membuncah. Ia merasa begitu bahagia dianugerahi anak yang sehat oleh Tuhan.

''Aku rasanya tak tega meninggalkannya di rumah dengan pengasuh, sementara aku pergi ke kantor,'' tutur perempuan bergelar sarjana ekonomi ini pada Tina, sahabatnya. Bagi ibu muda yang sebelumnya berkarir di sebuah bank swasta di ibu kota ini, membesarkan anak lalu menjadikannya anak yang saleh, cerdas dan sehat adalah di atas segala-galanya. Dan untuk itu, ia rela berkorban apa saja. Termasuk mengorbankan karirnya.

Dan begitulah, ketika cuti melahirkan dari kantornya habis, Retno tetap saja di rumah. Pilihan memang telah dijatuhkan. Atas persetujuan sang suami, Retno akhirnya keluar dari pekerjaannya di bank dan memilih untuk 'berkarir' di rumah. 'Yah, untungnya tanpa saya bekerja pun, Mas Anto bisa mencukupi kebutuhan keluarga. ''Bagi Retno, pilihan yang ia ambil, boleh jadi biasa-biasa saja. Tapi mungkin, tidak demikian bagi wanita lain. Bagi yang punya suami berpenghasilan pas-pasan misalnya, akan sangat sulit mengambil pilihan seperti itu. Tak cuma alasan ekonomi. Sebagian orang tampaknya juga masih sulit memahami, bagaimana wanita cerdas dan terpelajar seperti Retno bisa 'nrimo' hanya menjadi ibu rumah tangga yang kerepotannya mengurus anak nyaris tak kunjung usai setiap harinya.

Tapi, menurut para ahli, pilihan Retno untuk mengasuh sendiri anak-anaknya sangat bisa dipahami. Kata mereka, turun tangan mengasuh anak sampai dia berusia tiga tahun adalah keputusan yang sangat baik. Walau demikian, Anda yang kebetulan memilih untuk tetap bekerja meski telah memiliki anak, tak perlu berkecil hati.
Mengapa?
Sebab, wanita karir pun bisa menjadi ibu yang baik bagi putra putrinya walau pun ia tidak bisa menemani anaknya sepanjang hari. Memang sih banyak keuntungan yang bisa dipetik seorang ibu seperti Retno, yang memutuskan untuk mengasuh sendiri anaknya. Tapi, bukan berarti tak ada poin negatif dari keputusan itu. Nah, di bawah ini akan diuraikan seputar keuntungan dan kerugian yang bakal diterima oleh seorang ibu yang memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan lalu tinggal di rumah untuk mengasuh si buah hati. Moga-moga saja, uraian ini bisa menjadi acuan bagi wanita lain yang mungkin bakal menghadapi pilihan sulit: tetap bekerja atau mengasuh si Upik?

Keuntungan
Penelitian menunjukkan, ibu yang turun tangan langsung mengasuh anak pada tiga tahun pertama kehidupannya akan mendapat keuntungan terbaik. Mengapa? Sebab, pada masa-masa ini dengan sendirinya si ibu berkesempatan memainkan peranan penting dalam perkembangan fisik, kognitif, sosial, maupun emosional si anak.

''Berada di rumah bersama Ezra memungkinkan saya memperhatikan dia secara seksama dan mengetahui setiap perkembangan atau perubahan fisik dan emosionalnya,' ' kata Molly Olsen, seorang ibu rumah tangga yang tinggal di Los Angeles, AS.
''Saya senang sekali bahwa semua itu dilakukan oleh saya, bukan guru atau baby sitter. Saya jugalah yang melihat dia duduk dan tersenyum untuk kali pertama,'' sambung Molly bersemangat. Ibu-ibu seperti Molly ataupun Retno, juga akan merasakan ketenangan lantaran anaknya benar-benar diasuh oleh orang yang sangat mencintainya, bukan pembantu, atau pengasuh yang bisa saja tak tinggal lagi di rumah itu, bulan berikutnya.
''Sungguh, ini (mengasuh anak sendiri) 'karir' yang paling berharga yang pernah saya dapatkan, '' seru Margie Johnson, wanita asal Virginia yang telah 24 tahun menjadi ibu rumah tangga dan memiliki tujuh orang anak. Ia mengatakan, tinggal di rumah telah memberikan banyak hal yang sebelumnya tak terbayangkan. ''Bagi anak-anak, kehadiran kita sebagai ibu tak akan tergantikan, dan dengan mengasuh mereka secara langsung sama artinya Anda tengah membuat investasi personal yang sangat berharga, '' lanjut wanita yang menjadi anggota dewan direksi Mothers at Home -- sebuah organisasi non-profit yang mendedikasikan kegiatannya untuk mendorong para wanita agar tinggal di rumah mengasuh anak-anak mereka.

Kerugian
Wanita karir yang memutuskan untuk tinggal di rumah biasanya merasakan kesepian yang amat sangat. Bagi orang-orang yang biasa bergaul dengan rekan-rekannya sesama karyawati di kantor, perubahan suasana (dari kantor ke rumah) ini kadang kala juga bisa memicu depresi. Apalagi jika si ibu agak tidak 'ikhlas' menanggalkan karirnya di kantor, maka ia pun bisa merasa sangat terasing, meski berada di rumahnya sendiri. ''Bayangkan, aku merasa sangat sulit berhubungan dan bergaul dengan ibu-ibu rumah tangga di sekitar rumahku,'' kata Ann Nicholas, ibu muda yang akhirnya kembali lagi bekerja di kantor setelah sempat beberapa bulan tinggal di rumah untuk mengasuh bayinya. ''Saya merasa tidak seperti banyak wanita lain yang merasa bahagia jika tidak bekerja di luar rumah.''Hal lain yang mungkin dirasakan ibu-ibu muda semacam Retno adalah merasa kehilangan harga diri. Ibu-ibu rumah tangga seperti ini memang tidak akan mendapatkan uang atau penghargaan lain yang sifatnya kebendaan buah kerja kerasnya: dari mengganti popok, mencuci baju, menyuapi hingga mengajak main si kecil.
Dan jika tidak memiliki kebesaran jiwa dan pintar-pintar memupuk rasa bahagia dan puas atas apa yang dilakukan, para ibu muda itu akan gampang didera rasa bosan, bahkan frustrasi. Ini, seperti yang dikeluhkan oleh Ann.
''Terus menerus berada di rumah membuat saya seperti tak punya identitas.
''Dan yang juga perlu dipikirkan, memilih untuk menjadi ibu rumah tangga yang cuma mengasuh anak-anak dan suami, kadangkala juga memunculkan problem ekonomi keluarga yang rumit. Terlebih-lebih -- seperti yang telah disebutkan di atas -- jika sang suami berpenghasilan pas-pasan. Bukan tak mungkin, bakal pecah perang dingin antara ibu dan sang suami.
Jangan sampai terjadi, ya?
berbagai sumber/hid ()

2 comments:

Prolabz's Crew said...

hehehehe.....
aku yo pengen duwe bojo sing soleh.....tapi yo keren juga kali lek mereka jg berkarir.....

wah mbak ., mbak intan opo arep retired kie soko indosat ?
:P

Perjalanan Hajiku said...

Bekerjah sebatas tidak mengabaikan tugas sebagai ibu rumah tangga.
Oleh penulis buku 40 Hari Di Tanah Suci.